Banyak Tawa Hilang Wibawa - Abdullah Faqoth
News Update
Loading...

Tuesday, 3 March 2020

Banyak Tawa Hilang Wibawa

Bercanda memang penting, tetapi jangan berlebihan. Bercanda untuk mencairkan suasana dan mengisi kepenatan.

Begitu juga dalam agama Islam mengajarkan.

Pantas saja Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu berkata,
قال عمر رضي الله عنه: من كثر ضحكه قلت هيبته ومن كثر
مزاحه استخف
"Barang siapa yang banyak tertawa, maka akan sedikit wibawanya. Barang siapa yang banyak guraunya, maka dengannya dia akan rendah." [1]

Al Ahnaf bin Qois Rahimahullah berkata,
"Barang siapa yang banyak bicaranya, tertawanya dan bercandanya, maka sedikit wibawanya." [2]

Al-Mawardi Rahimahullah pernah berkata,
 وَأَمَّا الضَّحِكُ فَإِنَّ اعْتِيَادَهُ شَاغِلٌ عَنْ النَّظَرِ فِي الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ ، مُذْهِلٌ عَنْ الْفِكْرِ فِي النَّوَائِبِ الْمُلِمَّةِ. وَلَيْسَ لِمَنْ أَكْثَرَ مِنْهُ هَيْبَةٌ وَلَا وَقَارٌ، وَلَا لِمَنْ وُصِمَ بِهِ خَطَرٌ وَلَا مِقْدَارٌ.
"Adapun tertawa, apabila sesorang membiasakannya dan terlalu banyak tertawa, maka hal itu akan melalaikan dan melupakannya dari melihat hal-hal yang penting. Dan orang yang banyak melakukanya, tidak akan memiliki wibawa dan kehormatan." [3]

Terkadang yang membuat wibawa seseorang jatuh adalah seringnya tertawa dengan tertawa yang terbahak-bahak (ngakak). Jelas ini menjatuhkan wibawa dan terkesan tidak serius. Oleh karenanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kebanyakan hanya tersenyum dan tidak terbahak-bahak. Karena seringnya seperti ini menunjukkan bahwa ia lupa atau lalai dengan akhirat.

Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa dia berkata,
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا
حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ
"Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum." [4]

Semoga bermanfaat.

Footnote
[1]. HR. Baihaqii dalam kitab Syu'abul 'imaan no.5019
[2]. Al Mushonaf Ibnu Abi Dunya 389
[3]. Adabud-Dunya wad-Din hal.313, Dar Maktabah Al-Hayat, 1986 M, Syamilah
[4]. HR. Al-Bukhari no.6092 dan Muslim no. 1497

Sumber
  • @dakwahindah.id
  • muslimafiyah.com
Add your opinion
Berikan Komentar
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done