Hukum Merayakan Hari Ibu - Abdullah Faqoth
News Update
Loading...

Thursday, 2 January 2020

Hukum Merayakan Hari Ibu

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin ditanya : Kebiasaan kami, pada setiap tahun merayakan hari khusus yang disebut dengan istilah hari ibu, yaitu pada tanggal 21 Maret. Pada hari itu banyak orang merayakannya. Apakah ini halal atau haram. Dan apakah kita harus pula merayakannya dan memberikan hadiah-hadiah?

Jawab
Semua perayaan yang bertentangan dengan hari raya yang disyari'atkan adalah bid'ah dan tidak pernah dikenal pada masa para Salafush Shalih. Bisa jadi perayaan itu bermula dari non muslim, jika demikian, maka disamping itu bid'ah, juga berarti tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala . Hari raya- hari raya yang telah disyari'atkan telah diketahui oleh kaum muslimin, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha serta hari raya mingguan (hari Jum'at). Selain yang tiga ini tidak ada hari raya lain dalam Islam. Semua hari raya selain itu ditolak kepada pelakunya dan bathil dalam hukum syari'at Allah Subhanahu wa Ta'ala berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Barang siapa yang membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat tuntunan padanya, maka ia tertolak."(HR. Bukhari)
Karena itu tidak boleh merayakan hari yang disebutkan oleh penannya, yaitu yang disebutkan sebagai hari ibu, dan tidak boleh juga mengadakan sesuatu yang menunjukkan simbol perayaannya, seperti : menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan, memberikan hadiah-hadiah dan sebagainya.
Dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin  
Sumber : @thesunnah_path
                  almanhaj.or.id
Add your opinion
Berikan Komentar
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done